Teuku Iskandar Ali, Bertahan Didera Trauma

wahyu dhyatmika • Senin, 12 Jun '06 09:58 • 1 komentar

NameNama aslinya lumayan panjang: Teuku Iskandar Ali bin Ali Sabil. Tapi, kepada pembaca—juga editor di surat kabar—ia selalu menyebut diri TI Thamrin. “Jika pakai nama asli, tulisan saya tak bakal dimuat. Kalaupun dimuat, (dulu) bisa bermasalah,” kata pria kelahiran Langsa, Aceh Timur, 69 tahun silam ini.

Perjalanan hidup wartawan senior yang biasa disapa Pak Is ini terjal dan berliku. Ayahnya meninggal saat Is berusia enam tahun. Untuk bertahan hidup, bungsu lima bersaudara ini pernah jadi penyadap getah karet.

Waktu masuk SMP, Is hijrah ke Jakarta, ikut abangnya. Mulailah ia belajar tulis-menulis. Tapi, awalnya tak lumrah cara anak sekolah.

“Kakak ipar suka memeras tenaga saya. Tapi, makanan ia sembunyikan,” kata Is mengenang masa kecilnya. “Setiap ada waktu, saya curahkan kemarahan lewat tulisan.”

Tak tahan tinggal bersama kakak, waktu SMA Is pindah ke Medan, numpang paman. Di sana, bakat menulisnya makin terasah. Ia mengirim cerpen ke berbagai media lokal dan nasional.

Selepas SMA, pada 1957, Is jadi wartawan harian Patriot, Medan. Pengalaman pertama, tanpa bekal ilmu jurnalistik, Is langsung dikirim ke Tapanuli, meliput pemberontakan PRRI/Permesta.

Setelah dua tahun jadi wartawan, Is masuk Universitas Gadjah Mada jurusan sastra. Tapi, ia drop out di tingkat dua. “Karena beban hidup, sekolah saya kacau,” katanya.

Pada 1962, Is bergabung dengan harian Bintang Timur, koran Jakarta yang jadi corong Partai Indonesia (Partindo). Selama tiga tahun, Is jadi reporter sekaligus asisten redaktur desk luar negeri.

Tiga tahun kemudian, Gerakan 30 September meledak, Is pun kena getahnya. Ia dituduh sebagai orangnya Bung Karno, wartawan kiri, dan anggota Lekra. “Saya hanya dekat dengan orang Lekra, belum jadi anggota,” kata Is memperjelas posisinya.

Tak mungkin lagi jadi wartawan, Is alih profesi jadi pedagang sayur antar kota. Tapi, aparat tetap mengejarnya. Sampai suatu hari, pada 1966, Is mengambil buku catatan di rumah kawannya di Mangga Besar. Nahas, di rumah itulah ia ditangkap. “Saya kena operasi Kalong,” kata Is.

Tanpa diadili, Is langsung dibui. Tiga tahun mendekam di penjara Salemba, dua tahun di penjara Tangerang. Pada 1971, Is memang bebas. Tapi, justru setelah bebas, ia mengalami berbagai trauma.

Suatu hari, misalnya, Is bertemu kawan lama sesama wartawan di toko buku. Eh, waktu si kawan pulang, polisi menangkapnya. Awalnya, si kawan didakwa menampar seseorang. Tapi, waktu diperiksa, ia dikait-kaitkan dengan Is yang baru keluar bui.

Di lain waktu, Is bertemu beberapa kawan lama lain asal Medan. Tak lama berselang, orang-orang itu pun ditangkap tanpa alasan yang jelas.

“Saya lama tak berani ketemu kawan lagi. Saya pun menanahan diri untuk tampil (dengan nama asli),” kata Is. “Kalau bisa memilih, saya pernah berpikir lebih baik dibuang ke Buru.”

Selepas dari penjara, kehidupan Is sempat tak menentu. Jangankan pekerjaan, sehelai kartu pengenal pun ia tak punya. Pernah keponakannya yang tentara membawa Is tinggal di asrama. Tapi, begitu tahu, komadan asrama langsung mengusir Is.

Berbulan-bulan, Is diam-diam berteduh di gedung Walikota Jakarta Barat. Untuk sesuap nasi, ia jadi pedagang kaki lima di depan Bioskop Rivoli, Kramat Pulo. Ia sempat punya kios di Pasar Induk Kramat Jati. Tapi, karena terlalu percaya pada orang lain, usahanya bangkrut.

Untung Is masih menyimpan bakat menulis. Ia terus mengirim cerpen dan laporan khusus ke sejumlah media dengan samaran. “Thamrin itu saudara saya. Waktu ambil honor, saya pinjam KTP dia,” kata Is.

Jalan hidup Is mulai agak terang sejak 1980-an. Beberapa kawan mengajak dia menulis di majalah Ambassador, Kadin, Tempo, dan Matra. Waktu Tempo kembali terbit (setelah dibredel), Is bergabung lagi ke majalah mingguan ini. Tapi, masalah lagi-lagi menghadang. Is jadi terdakwa dalam kasus Tempo melawan Tomy Winata. Untung, setelah setahun masa sidang, hakim memutus Is bebas.

“Saya pernah hidup di penjara. Kepada petinggi Tempo, saya bilang siap, asalkan keluarga ditanggung,” ujar Is.

Dari pernikahannya dengan Tati Iskandar sejak 1973, Is memperoleh tiga anak perempuan: Cut Ima Mariska, Cut Tisa Mariska, dan Cut Sheila Mariska.

“Mereka baru tahu saya bekas tapol (tahanan politik) tahun lalu, saat ada wartawan yang tanya. Mereka kaget, tapi mau apa lagi,” kata Is lalu terkekeh.

Sejak Februari lalu, Is pensiun dari Tempo karena terbentur usia.

Kesehatannya pun sempat memburuk, setelah dua kali terkena stroke. Tapi, sampai kini, ia tak bisa lepas dari dunia tulis menulis. “Saya bisa hidup karena menulis,” katanya.

Setiap pekan, misalnya, Is masih membantu mengedit 20 tulisan untuk koran Aceh Kita. “Saya tak bisa menolak. Dengan Aceh, ikatan batin saya masih kuat.” Di luar itu, Is punya kesibukan lain: menyelesaikan novel perdananya. “Kalau selesai, itu warisan buat anak-anak,” kata dia.

[Jajang Jamaludin, eks Ketua AJI Jakarta, Redaktur Koran Tempo]

Komentar

bravo teuku! terus berjuang
or create account to post comments