Menulis UKM Itu Mudah

wahyu dhyatmika • Selasa, 1 Jan '08 09:00 • 0 komentar
1

Judul : Mewartakan Usaha Kecil, Panduan untuk Jurnalis Cetak, Radio, dan Televisi

 

Penulis : Tim Aliansi Jurnalis Independen Jakarta

Penerbit : AJI Jakarta

Cetakan : I, Januari 2008

Tebal : xvi + 136 halaman

Harga : Rp. 30.000

 

Kalau ditanyakana apa yang menjadi lokomotif ekonomi Indonesia saat ini, jawabannya yang paling faktual adalah usaha kecil menengah. Dengan sekitar 40 juta unit usaha yang tersebut di seluruh Nusantara, bisnis akar rumput ini menghela gerbong ekonomi yang tertatih-tarih dihantam krisis ekonomi 1997.
Si Kecil yang tahan banting, lentur, dan memiliki adaptasi alamiah mampu memberi makan kepada jutaan orang di Tanah Air. Posisinya menjadi sangat strategis saat pemerintah tidak mampu menyediakan lapangan kerja bagi jutaan angkatan kerja baru yang haus pekerjaan.

Meski sudah sedemikian tinggi posisi para ‘cabe rawit’ dalam menyelamatkan ekonomi nasional, akses mereka ke media massa relatif sedikit untuk sekadar ‘memberitakan’ kesuksekannya. Padahal, untuk lebih mengembangkan bisnisnya, mereka butuh jejaring yang antara lain dibangun lewat komunikasi di media massa.

Media massa pun seperti ogah-ogahan memberitakan Si Kecil. Porsinya dibandingkan halaman lain jauh lebih sedikit dan jarang tampil di halaman depan. Mengapa hal ini terjadi. Melalui buku Mewartakan Usaha Kecil, Panduan untuk Jurnalis Cetak, Radio, dan Televisi, AJI Jakarta mengupas hal-hal yang berkaitan dengan masalah tersebut.

Seperti disebutkan dalam pengantar, buku ini dibagi dalam enam segmen. Segmen 1, Dilema Meliput Usaha Kecil, yang mengupas studi kasus atas karya jurnalistik yang rentan masalah. Menyodorkan diskusi tentang apa yang boleh dan tidak dalam sebuah liputan jurnalistik.

Segmen 2, Usaha Kecil di Tengah Industri Besar. Segmen ini merupakan studi empiris terhadap hubungan media dan usaha kecil. Wacana khusus tentang usaha kecil dikupas di sini. Segmen ini menyodorkan berbagai tema yang layak dipilih, jika Anda bingung mencari tema yang pas.

Segmen 3, Menulis Kisah ‘Si Kecil’. Para jurnalis cetak butuh ’sangu’ untuk meliput dan ‘teman’ untuk mengolah hasil liputan agar jadi ‘greng’.

Segmen 4, Menyiarkan Si Kecil di Radio. Bagaimana membuat pendengar bisa melihat dengan telinga? Segmen ini menjawab pertanyaan tersebut. Dilengkapi sumber rujukan informasi, segmen ini memudahkan praktisi radio ‘melantunkan’ soal usaha kecil.

Segmen 5, Menayangkan Si Kecil di Televisi. Inilah senjata para broadcaster untuk meraih rating bersama usaha kecil. Berisi jurus-jurus bagi reporter, kameramen, editor, maupun produser untuk menaklukkan pemirsa lewat liputan yang berkualitas.

Segmen 6, Kembali ke Kode Etik. Liputan berkualitas tidaklah sekadar yang mampu memikat khalayak. Kualitas bukan hanya diukur berdasarkan hasil, tapi juga dilihat proses dan efeknya. Sebab itu, etika dan hukum harus diperhatikan.

Segmen ini mengingatkan para jurnalis agar memerhatikan aspek tersebut sebelum jatuh ke masalah serius akibat karyanya sendiri. (halaman xiv)
Dengan hadirnya buku tersebut diharapkan Si Kecil bisa mendapatkan maqam yang layak di media massa. (*)

Terkait:

Komentar

Belum ada komentar.

or create account to post comments