Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta memberikan penghargaan tahunan untuk jurnalis ibukota terbaik 2008 pada Kamis, 14 Agustus 2008 di Gedung Dewan Pers, Jl. Kebon Sirih, Jakarta Pusat. Penghargaan ini adalah bagian dari rangkaian kegiatan memperingati berdirinya Aliansi Jurnalis Independen setiap 7 Agustus.
Para pemenang tahun ini adalah Dandhy Dwi Laksono (RCTI) dengan karyanya berjudul "Pembunuhan Munir", Rebecca Henschke (Kantor Berita Radio 68H) dengan karyanya "Pembakaran Masjid Ancam Kebebasan Beragama di Indonesia", Agus Susanto (Harian Kompas) dengan fotonya berjudul "Kebakaran di Klender" dan Ahmad Nurhasim (Majalah Arti) dengan karyanya "Candu Iklan Rokok".
Empat pemenang ini terpilih dari 29 peserta di kategori televisi, 13 peserta kategori radio, 5 peserta kategori foto dan 11 peserta kategori media cetak/online. Dewan juri penghargaan ini adalah Bambang Budjono (jurnalis cetak senior), Iwan Sudirwan (produser televisi senior), Rully Kesuma (redaktur foto Majalah Tempo) dan Aboeprijadi Santoso (wartawan radio senior). "Ada persaingan ketat di semua kategori. Rata-rata karya peserta menunjukkan ide menarik, liputan mendalam dan bersifat investigatif," kata salahsatu juri, Bambang Budjono.
Iwan Sudirwan memberi catatan khusus untuk kompetisi di kategori televisi. "Kami harus memilih yang terbaik dari sederet karya peserta yang visualisasinya amat baik, liputannya komprehensif dan rata-rata dibuat dengan tingkat kesulitan tinggi," katanya. Pemenang kategori ini, Dandhy Dwi Laksono, mendapat nilai lebih karena berhasil memburu sumbernya sampai ke luar negeri.
Selain Rebecca Henschke, yang memperoleh penghargaan Apresiasi Jurnalis Jakarta untuk kedua kalinya berturut-turut, ketiga pemenang lain memperoleh penghargaan ini untuk pertama kalinya. Semua pemenang mendapatkan sebuah laptop dan piagam penghargaan dari AJI Jakarta. Kegiatan ini didukung penuh oleh Aviyasa Consulting, Bank Danamon dan Nestle Indonesia.
Ketua AJI Jakarta, Jajang Jamaluddin, berharap para pemenang terpacu untuk terus meningkatkan kualitas karyanya di masa depan. "Karya jurnalistik keempat pemenang ini juga bisa menjadi contoh untuk wartawan lain, sehingga pada akhirnya kualitas jurnalistik media kita secara umum juga bisa meningkat," katanya.
Aliansi Jurnalis Independen didirikan di Sirnagalih, Bogor, Jawa Barat, pada 7 Agustus 1994 sebagai reaksi atas keputusan rejim Orde Baru membreidel penerbitan pers; Tempo, Detik dan Editor.
Sampai saat ini, AJI konsisten mendukung kebebasan pers dan kebebasan berekspresi, yang dibarengi dengan gerakan meningkatkan kualitas profesionalitas dan peningkatan kesejahteraan wartawan melalui kampanye anti amplop dan kampanye serikat pekerja media.
Penghargaan tahunan "Apresiasi Jurnalis Jakarta" ini adalah bagian dari ikhtiar AJI mendorong pers Indonesia makin profesional dan berkualitas. (*)













Komentar