Rasanya baru kemarin, Konferensi Kota AJI Jakarta digelar di Wisma Yayasan Tenaga Kerja Indonesia (YTKI), di Jl. Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Konferta yang digelar awal Februari 2009, tiga tahun lalu itu, secara aklamasi memilih saya dan Umar Idris, sebagai Ketua dan Sekretaris AJI Jakarta.
Sekarang, tiga tahun sudah lewat, sudah saatnya saya mengembalikan mandat dan amanat ini kembali ke tangan Anda semua, anggota AJI Jakarta, seraya melaporkan apa saja yang sudah kami lakukan selama periode kepengurusan ini.
Semua rencana kerja, pencapaian, kegagalan dan pekerjaan rumah dari kepengurusan ini, terangkum dalam Laporan Pertanggungjawaban ini. Laporan ini terdiri dari lima bagian: (1) gambaran umum permasalahan yang dihadapi pengurus AJI Jakarta sepanjang 2009-2012, (2) rencana aksi dan strategi kami menghadapi masalah tersebut, (3) laporan pelaksanaan program dan rencana tersebut, (4) evaluasi dan (5) rekomendasi untuk kepengurusan berikutnya.
Sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, visi AJI adalah terwujudnya pers bebas, profesional, dan sejahtera, yang menjunjung tinggi demokrasi. Sedangkan misi AJI adalah: (1) memperjuangkan kebebasan pers dan hak publik untuk mendapatkan informasi, (2) meningkatkan profesionalisme jurnalis, (3) memperjuangkan kesejahteraan pekerja media, (4) mengembangkan demokrasi dan keberagaman, (5) memperjuangkan isu perempuan dan kelompok marginal lain melalui media, (6) meningkatkan posisi tawar jurnalis perempuan dan (7) terlibat dalam pemberantasan korupsi, ketidakadilan, dan kemiskinan.
Pada Konferta 2009 lalu, anggota AJI Jakarta juga telah menetapkan sejumlah program kerja pokok, yang harus menjadi acuan kami dalam merumuskan rencana aksi dan strategi selama tiga tahun ini. Sejumlah rencana kerja pokok itu pada dasarnya terbagi habis menjadi program kelima divisi di AJI Jakarta yakni Divisi Organisasi, Divisi Pendidikan, Divisi Perempuan, Divisi Advokasi dan Divisi Serikat Pekerja.
Dalam perjalanannya tentu, selain mendasarkan diri pada acuan program yang telah ditetapkan, pengurus AJI Jakarta juga dituntut untuk merespon perkembangan situasi dan kondisi di Ibukota dan di tanah air. Karena itulah, misalnya, kami sempat mengundang para pimpinan partai politik di Jakarta sebelum Pemilihan Umum 2009 untuk menandatangani deklarasi menjaga kebebasan pers selama masa kampanye. Selain itu, kami juga sempat mengundang Shirley Shackleton, janda wartawan Australia yang tewas di Balibo, Timor Timur ketika invasi Indonesia ke sana, 1976 lalu, untuk menjadi saksi dalam sidang gugatan atas pelarangan film Balibo di Indonesia, akhir 2009 lalu.
Pada akhir 2010 lalu, AJI Jakarta juga merespon laporan pembelian saham Krakatau Steel oleh sejumlah wartawan yang diduga melanggar kode etik, dan mendorong agar kasus ini diselesaikan Dewan Pers. Respon AJI Jakarta atas kasus ini membuat wartawan peliput bursa saham Indonesia, regulator pasar modal dan berbagai pemangku kepentingan lain menyadari pentingnya membuat kode etik tersendiri yang lebih detail mengatur perilaku wartawan peliput pasar modal.
Sepanjang 2009-2012, AJI Jakarta terlibat dalam berbagai advokasi untuk menyelesaikan sengketa pers dan sengketa perburuhan di dunia media di Jakarta. Sejumlah kasus berhasil diselesaikan lewat mediasi tertutup. Sedangkan yang lain, menuntut penanganan spesial melalui advokasi litigasi dan non-litigasi, seperti proses hukum di pengadilan, demonstrasi dan aksi massa lain. Meski tak selalu berakhir manis, perjuangan advokasi AJI Jakarta ini merupakan bukti komitmen organisasi ini melindungi hak dan kepentingan jurnalis yang menjadi anggotanya.
Informasi lebih detail mengenai semua kegiatan AJI Jakarta akan disampaikan di dalam laporan ini. Tentu dengan catatan penting bahwa semua kerja-kerja organisasi ini tak akan terlaksana tanpa dukungan dan pengorbanan seluruh pengurus AJI Jakarta dan staf sekretariat yang luar biasa. Ucapan terimakasih saja rasanya tak cukup untuk mengungkapkan betapa kami berdua berutang besar pada kawan-kawan semua.
Saya ingin secara khusus menyebutkan nama bendahara AJI Jakarta, Hadi Rahman, dan kelima koordinator divisi di AJI Jakarta: Riky Ferdianto (Koordinator Divisi Serikat Pekerja), Abdul Malik (Koordinator Divisi Organisasi), Ratna Ariyanti (Koordinator Divisi Perempuan), Dian Yuliastuti (Koordinator Divisi Pendidikan) dan Agustinus Jojo Raharjo (Koordinator Divisi Advokasi) yang kerja kerasnya untuk AJI Jakarta harus diberi apresiasi setinggi-tingginya. Tentu ada sederet nama-nama lain di balik keenam orang ini, yang perannya tak kalah esensial, yang akan disebutkan pada halaman khusus setelah kata pengantar ini.
Jurnalis yang menjadi pengurus dan aktivis AJI pada dasarnya adalah jurnalis yang setengah gila. Di tengah kepungan deadline, tuntutan redaktur di kantor media masing-masing, perputaran isu yang luar biasa cepat, masih ada sekelompok wartawan muda yang begitu berdedikasi, mau meluangkan waktunya yang sudah amat sempit, untuk menjalankan roda organisasi ini, tanpa sedikit pun mengurangi kualitas kerja-kerja jurnalistik mereka di medianya. Tidak berlebihan rasanya jika kita mengangkat topi untuk semua pengurus AJI Jakarta periode ini.
Selain itu, penghargaan spesial juga harus diberikan pada Yus Ardiansyah untuk semua pengorbanan waktu, tenaga, pikiran dan energinya sebagai Manajer Kantor (Office Manager) AJI Jakarta. Tanpa Yus, organisasi ini tak akan bisa menggelinding seperti seharusnya. Satu lagi yang tidak boleh lupa disebutkan adalah Ateng Sutarno, penjaga kantor dan asisten umum untuk semua aktivitas AJI Jakarta. Dukungan dan perannya tak bisa diremehkan. Kalau Yus adalah roda untuk AJI Jakarta, maka Ateng tak lain dan tak bukan, adalah pelumasnya.
Kami juga ingin berterimakasih pada para staf memberships AJI Jakarta, yang sudah pontang-panting mengurusi 480 anggota AJI Jakarta, tiga tahun ini. Mereka adalah Shanty Fitria (2009-2010), Santi Irawati (2010-2011) dan dua mahasiswa yang magang di AJI Jakarta selama enam bulan terakhir: Devi Oktaviani dan Ade Herdiana.
Dukungan yang luar biasa juga kami peroleh dari segenap pengurus AJI Indonesia, lembaga-lembaga donor, lembaga mitra, simpatisan dan sahabat AJI, yang tak bisa kami sebutkan satu persatu.
Semua gagasan, ide, dan rencana besar kita, tak akan terlaksana tanpa bantuan kawan-kawan semua. Rapat, debat, diskusi dan perkawanan kita, mewarnai perjalanan tiga tahun terakhir ini, dan niscaya memperkaya pengalaman dan pengetahuan kita. Sekali lagi, terimakasih.
Tiga tahun lalu, saya menerima mandat menjadi Ketua AJI Jakarta dengan beragam rencana dan gagasan di kepala. Sekarang, saya mengembalikan mandat ini dengan kejujuran: bahwa tidak semuanya berjalan mulus sesuai rencana. Dengan segenap kerendahan hati, saya mohon maaf atas semua ketidaksempurnaan dan kesalahan yang saya dan Umar lakukan selama menjadi pucuk pimpinan AJI Jakarta. Kami menyadari tiga tahun ini belum apa-apa. Perjuangan masih teramat panjang. Saya yakin penerima estafet kepemimpinan AJI Jakarta berikutnya akan lebih baik dari sebelumnya.
Jakarta, 19 Januari 2012
Wahyu Dhyatmika
Ketua
Umar Idris
Sekretaris













Komentar