Mengenal Mikroplastik serta Dampaknya pada lingkungan dan Kesehatan

0

Tertarik

0

Hadir

0 %

Interaksi

Webinar
“Mengenal Mikroplastik dan Dampaknya pada Lingkungan & Kesehatan”

Mikroplastik ditemukan baik di lingkungan maupun di dalam tubuh manusia. Apakah mikroplastik hanya berasal dari kemasan plastik produk pangan? Apa dampak dan berapa ambang batas
kandungan mikroplastik di dalam tubuh manusia?

Sebagaimana dilansir media online Inggris The Guardian.com pada April lalu, baru-baru ini sekelompok peneliti dari Hull York Medical School, Inggris, mengumumkan hasil penelitian ditemukannya mikroplastik pada manusia, khususnya dalam paru-paru. Penelitian yang dilakukan dengan mengambil sampel pada 13 pasien yang menjalani operasi paru-paru, ditemukan 11 di antaranya memiliki kandungan mikroplastik di dalam paru-paru mereka. Jenis plastik yang paling banyak ditemukan ialah polypropylene yang kerap digunakan pada plastik
kemasan dan PET yang merupakan bahan baku botol plastik.(Sumber: https://mediaindonesia.com/weekend/484283/mikroplastik-ditemukan-mengendap-dalam-paru-paru-manusia)

Studi ini merupakan indikasi pertama yang menunjukkan bahwa terdapat partikel polimer dalam darah manusia. Diperlukan penelitian lebih lanjut yang lebih luas dan pengaturan ukuran sampel, jumlah polimer yang dinilai (CNN Indonesia “Ilmuwan Temukan Sampel Darah Orang Sehat Terkontaminasi Plastik”). Penelitian terkait dampak mikroplastik pada kesehatan manusia telah banyak dilakukan oleh berbagai lembaga penelitian di dunia. Salah satu temuan yang banyak mendapat perhatian
adalah penelitian yang dilakukan Departemen Kimia, State University of New York at Fredonia, Amerika Serikat. Pada 2018, mereka meneliti kontaminasi mikroplastik di air keran an air minum dalam kemasan. Penelitian menunjukan 93 persen dari 259 total sampel AMDK memperlihatkan sejumlah tanda telah terjadi kontaminasi mikroplastik. Namun, penelitian mempertimbangkan fakta bahwa belum ada penelitian yang konklusif terkait dampak mikroplastik pada manusia dan fenomena masifnya konsumsi AMDK di seluruh dunia.

Merespons penelitian ini WHO mengeluarkan laporan komprehensif bertajuk “Microplastic in Drinking-water”. Laporan tersebut menjawab pertanyaan dan kecemasan global perihal kemungkinan dampak mikroplastik dalam air minum pada kesehatan manusia. Dalam laporan ini WHO menggambarkan mikroplastik sebagai ubiquitous, yang berarti ada di mana-mana. Mikroplastik terdapat di semua lingkungan, dari perairan laut hingga makanan, dari udara hingga air minum, baik dalam botol maupun air keran. Hanya saja menurut WHO, belum ada
penelitian yang konklusif terkait efeknya pada kesehatan manusia. WHO menyimpulkan bahwa isu mikroplastik tidak perlu menjadi sumber kecemasan masyarakat untuk mengonsumsi air minum sehari-harinya. https://www.tribunnews.com/nasional/2022/05/23/marak-isu-bahaya-mikroplastik-pada-air-kemasan-bpom-minta-masyarakat-bijak-menyikapi-isu

Lembaga Pengkaji Risiko untuk keamanan pangan di bawah Lembaga Pangan Dunia (FAO), The Joint FAO/WHO Expert Committee Food Additives (JECFA) juga belum mengevaluasi toksisitas plastik dan komponennya. Oleh karena itu belum ditetapkan batas aman untuk mikroplastik. Apalagi Codex (lembaga standar keamanan pangan di bawah WHO) juga belum mengatur ketentuan tentang mikroplastik dalam pangan. Demikian pula EFSA (European Food Safety Authority), US-Environmental Protection Agency US-EPA pun sedang mengembangkan kajian, termasuk metoda analisis untuk penelitian toksikologi terhadap kesehatan (https://www.antaranews.com/berita/693865)

WHO pada 2019 menyimpulkan bahwa sebagian besar studi mikroplastik yang pernah dilakukan tidak sepenuhnya dapat dipercaya karena kurang dalam pengendalian mutu pada metoda yang digunakan. Area pengendalian mutu yang perlu ditingkatkan termasuk dalam penanganan sampel, identifikasi polimer, preparasi laboratorium, kebersihan kondisi udara dan pengendalian udara positif. Merespons pemberitaan dampak mikroplastik pada kesehatan manusia, Deputi Bidang Pengawasan Olahan pada Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Rita Endang, berharap masyarakat dapat menyikapi pemberitaan terkait bahaya mikroplastik. Ia mengatakan bahwa sampai saat ini belum ada resiko kesehatan terkait mikroplastik. BPOM selalu melakukan pengawasan terkait keamanan dan mutu obat dan makanan untuk menjaga
kesehatan masyarakat. Merujuk acuan WHO, hingga kini belum ada rekomendasi untuk melakukan pemantauan rutin atas kontaminasi mikroplastik dalam air kemasan.

Di Indonesia sendiri setidaknya ada dua penelitian yang pernah diberitakan di media. Pertama, pada 2017 yang dilakukan oleh Orb Media dan baru-baru ini yang dilakukan oleh Greenpeace bekerjasama dengan Laboratorium Kimia Anorganik Universitas Indonesia. Namun, masih menjadi tanda tanya apakah hasil kedua penelitian menggunakan metoda yang sama, cara preparasi yang sama dan dapat dibandingkan. Penggunaan plastik dapat dengan mudah kita temukan di hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pakaian, kendaraan, alat elektronik, sepatu, alat kebersihan sampai kemasan. Plastik memang memiliki beberapa kelebihan, antara lain murah, tahan lama, ringan dan
mudah dibentuk. Di sisi lain plastik juga memiliki kekurangan, yang sejak beberapa tahun belakangan ini sering disorot oleh berbagai pihak, yaitu masalah pencemaran. Plastik diberitakan sering ditemukan di sungai dan laut dalam jumlah besar dengan berbagai dampak yang merugikan terhadap ekosistem dan sampah plastik yang ditemukan bukan hanya yang berukuran besar tetapi juga mikroplastik yang sulit terlihat oleh mata.

Ada dua jenis mikroplastik yang mencemari laut, yaitu mikroplastik primer dan sekunder. Stund et.al (2015) mendefinisikan kedua jenis mikroplastik tersebut sebagai berikut:

1. Mikroplastik primer adalah mikroplastik yang dilepas ke lingkungan langsung dalam bentuk partikel berukuran kecil. Sebagai contoh adalah partikel yang ditambahkan dalam personal care (microbeads pada facial scrub atau shower gel). Mikroplastik primer dapat juga berasal dari abrasi dari plastik yang berukuran besar selama produksi, penggunaan, atau pemeliharaan, misalnya erosi dari ban pada saat kendaraan sedang digunakan atau abrasi dari tekstil sintetis selama pencucian. Sumber mikroplastik sangat beragam dan sebagian besar mikroplastik primer (98%)
dihasilkan dari aktivitas berbasis lahan. Boucher & Friot (2017) meneliti ada 7 sumber mikroplastik primer yang dominan, yaitu ban, tekstil sintetis, marine coatings, marka jalan, produk personal care, dan debu perkotaan. Pelepasan global mikroplastik primer ke laut diperkirakan mencapai 1,5 juta ton per tahun (Mton/tahun). Angka total ini sesuai dengan rilis per kapita setara dengan 212 gram atau setara dengan satu kantong belanjaan plastik konvensional kosong yang dibuang ke laut per orang/per minggu di seluruh dunia (Primary Microplastics in the Oceans by Boucher & Friot, 2017). Proporsi terbesar dari partikel-partikel ini berasal dari pencucian tekstil sintetis
dan dari abrasi ban saat mengemudi.

2. Mikroplastik sekunder adalah mikroplastik yang berasal dari degradasi plastik yang lebih besar menjadi fragmen plastik yang berukuran lebih kecil pada saat terpapar lingkungan laut. Hal ini terjadi melalui proses-proses akibat cuaca dari sampah yang tidak dikelola dengan baik, misalnya kantong plastik atau jaring ikan.
Mikroplastik ditemukan dengan komposisi bahan, density, bentuk dan ukuran yang beragam. Meskipun sering didefinisikan sebagai partikel plastik dengan panjang <5mm, sampai saat ini belum ada definisi mikroplastik yang disepakati secara ilmiah. Standar internasional tentang batasan mikroplastik pada pangan juga belum ditetapkan. Demikian pula dampak dari
mikroplastik masih diteliti, baik dampak kronis dari paparan mikroplastik maupun dampak akhir kontaminasi mikroplastik di berbagai ekosistem.

Untuk mendapatkan gambaran secara ilmiah, apa yang dimaksud dengan mikroplastik termasuk semua komponen yang berkontribusi terhadap mikroplastik, dampak mikroplastik terhadap kehidupan manusia, bagaimana cara analisa dan preparasinya untuk dapat menghasilkan hasil sampling yang akurat serta bagaimana cara mitigasi dampak mikroplastik
terhadap kehidupan, perlu dilakukan sesi ilmiah dan diskusi (sharing session) dengan ahli di bidang polimer, kemasan, lingkungan, kesehatan, dan regulasi.

Narasumber Pembahasan
1. Andreas, Peneliti Pusat Riset Kimia Maju BRIN (Badan Riset dan Inovasi Nasional)
2. Inneke Hantoro, Peneliti Mikroplastik Universitas Katolik Soegijapranata Semarang
3. Ir. Akhmad Zainal Abidin, M.Sc. Ph.D Pakar Mikroplastik ITB
4. Putu Juli Ardika, Direktorat Jendra Industri Agro Kementrian Perindustrian

Moderator
Fidelis Eka Satriastanti, AJI Jakarta

Agenda Terkait

Overview

Publikasi

GABUNG AJIJAK?