Mitigasi Resistensi Anti Mikroba “Pandemi Senyap Di Depan Mata”

0

Tertarik

0

Hadir

0 %

Interaksi

Mitigasi Resistensi Antimikroba
“Pandemi Senyap Resistensi Antimikroba”
Jakarta, 27 Mei 2023

Resistensi antimikroba (AMR) saat ini menjadi 10 isu ancaman kesehatan global yang mendesak dan perlu mendapatkan perhatian serius. Jika tidak dilakukan aksi sejak dini dapat berujung pada bencana nasional dan global. Isu ini mengancam semua sektor baik manusia, hewan, ikan, tumbuhan bahkan lingkungan. AMR ditunjuk menjadi penyebab 200.000 kematian bayi baru lahir per tahun (WHO 2017), 558.000 kasus baru TBC yang resisten terhadap antibiotik per tahun (WHO 2018), dan diprediksi menyebabkan 5.000.000 kematian global per tahun (Lancet 2022).

AMR berpengaruh luas ke berbagai bidang dan menjadi indikator utama dalam Tujuan Pembangunan Berkelanjutan/Sustainable Development Goals (SDGs) 3 untuk mengetahui presentase infeksi mikroorganisme resisten pada aliran darah dan proporsi fasilitas kesehatan yang memiliki ketersediaan obat inti yang terjangkau dan berkelanjutan (WHO, FAO, WOAH 2021).

Adapun SDG yang terdampak dan dapat berkontribusi membantu mitigasi AMR antara lain tidak ada kemiskinan (SDG 1), tidak ada kelaparan (SDG 2), kesehatan dan kesejahteraan yang baik (SDG 3), tersedia air bersih dan sanitasi (SDG 6), pekerjaan yang layak dan pertumbuhan ekonomi (SDG 8), konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab (SDG 12), dan kerjasama mitra untuk mencapai tujuan (SDG 17). Sedangkan SDG yang terkait erat hubungannya dengan AMR, yaitu SDG 5, 9, 10, 11, 13, dan 14 (WHO, FAO, WOAH 2021).

AMR dikenal memiliki banyak driver dan perlu ditangani di banyak bidang, oleh karenanya pendekatan Satu Sehat/One Health sangat penting untuk memastikan semua sektor dan pemangku kepentingan berkomunikasi dan bekerja sama secara efektif dalam memitigasi AMR.

Dalam rangka meningkatkan kesadaran masyarakat luas dan mengajak semua pihak untuk beraksi bersama demi kesehatan semua, quadripartite WOAH, FAO, WHO, dan UNEP di bawah proyek the Multi-Partner Trust Fund (MPTF) bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian bermaksud mengadakan kegiatan media training. Center for Indonesian Veterinary Analytical Studies (CIVAS) ditunjuk sebagai pelaksana kegiatan MPTF WOAH Indonesia berkolaborasi dengan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) untuk menyelengarakan kegiatan media training tersebut.

Aliansi Jurnalis Independen (AJI) merupakan organisasi yang mempromosikan kebebasan pers di Indonesia. AJI didirikan pada tahun 1994, berkedudukan di Jakarta, dan merupakan asosiasi jurnalis independen pertama di tanah air. AJI adalah anggota International Freedom of Journalist (IFJ) dan Southeast Asian Press Alliance (SEAPA). AJI juga merupakan organisasi anggota Asian Forum for Human Rights and Development (FORUM-ASIA) dan Global Initiative Journalism Network.

Pembicara:
1. Vida Parady, MA (Konsultan Komunikasi AMR)
2. dr. Harry Parathon (KPRA)
3. Drh. Imron Suandy, MVPH (AMR Indonesia animal health contact poin/ Ditkesmavet, Kementan)
4. Drh. Gunawan (FAO National Technical Adviser) – Online
5. Dr. Tikiri Prijantha (AMR Technical Officer, WOAH SSR SEA)
6. Dr. Tri Satya Putri Naipospos (Ketua Badan Pengurus CIVAS)

Moderator:
Adhitya Ramadhan

Dokumentasi :
https://drive.google.com/drive/folders/1FsblFHTDuau6WTiWzZpcoAqB5gXST1Xt?usp=sharing

Agenda Terkait

Overview

Publikasi

GABUNG AJIJAK?