Keberpihakan Politisi dan Calon Presiden terhadap Isu Kesehatan di Tahun Politik

0

Tertarik

0

Hadir

0 %

Interaksi

Editor’s Meeting
Keberpihakan Politisi dan Calon Presiden terhadap Isu Kesehatan di Tahun Politik

Film serial “Gadis Kretek” yang tayang di platform video berbayar Netflix, menyedot perhatian banyak pihak. Film yang diadaptasi dari novel berjudul “Gadis Kretek” karya Ratih Kumala ini telah melahirkan diskusi dan perdebatan yang menarik dan menjadi sorotan sejumlah kalangan.

Sorotan tidak hanya tentang pemain maupun karakter dalam film tersebut, melainkan tema film yang menceritakan bisnis rokok sebagai latar belakang jalan cerita film. Terlebih lagi, terdapat adegan yang menampilkan perempuan sedang merokok, aktivitas melinting rokok, dan suasana pekerja pabrik rokok. Seperti halnya produk populer lain, film “Gadis Kretek” dikhawatirkan mengglorifikasi citra perilaku merokok dan semakin mendorong konsumsi rokok pada anak, remaja, dan perempuan yang angkanya terus meningkat dari tahun ke tahun berdasarkan Global Adult Tobacco Survey (GATS) pada 2021.

Regulasi dalam berbagai aspek soal pengaturan zat adiktif ini tentu menjadi sangat penting. Dalam kontek film “Gadis Kretek”, jika pemerintah tegas menjalankan aturan, seharusnya film ini tidak bisa dikonsumsi secara mudah oleh anak-anak. Diketahui batas umur penonton film ini ditetapkan untuk 13 tahun ke atas. Selain itu, seharusnya ada juga pemberitahuan semacam disclaimer atau warning dalam setiap awal episode seri film ini. Film itu menggambarkan betapa masih rapuhnya komitmen pemerintah terhadap kesehatan publik, khususnya dalam menurunkan angka perokok di Indonesia.

Pada tahun ini, sebenarnya Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat telah secara resmi mengesahkan Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 pada 11 Juli 2023 tentang Kesehatan sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009. Akan tetapi, dalam penyusunan rancangan peraturan pemerintah tentang pengaturan zat adiktif berupa produk tembakau, terdapat beberapa Kementerian/Lembaga yang cenderung menolak langkah pengetatan dengan dalih peningkatan pendapatan negara dan pertumbuhan ekonomi.

Maka, pada saat jelang pesta demokrasi tahun 2024, menjadi penting bagi media untuk menekankan komitmen capres-cawapres dalam keberpihakannya pada kesehatan publik agar meminimalisasi terjadinya ketidakseragaman antar Kementerian/Lembaga. Melalui momentum pemilu, publik harus dapat melihat siapa saja politisi maupun kandidat calon presiden dan wakil presiden yang berkomitmen
tinggi terhadap pengendalian rokok. Media perlu untuk mengawal poin-poin kampanye mereka.

Selain itu, penting untuk melihat bagaimana nasib isu pengendalian tembakau di dapur keredaksian media. Apakah ada intervensi dari industri rokok? Terutama pada masa-masa sekarang, media banyak yang membutuhkan banyak sponsor untuk bisa tetap bertahan.

Pembicara
1. Eva Susanti, Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular
2. Rohani Budi Prihatin, Analis Badan Keahlian DPR RI

Moderator:
– M. Fauzi Djamal

Fasilitator:
– Fransica Christy R

Dokumentasi :
https://drive.google.com/file/d/1A7kW8KXP8IMFG2gz9xo1RieAWyYdHiD3/view?usp=drive_link

Agenda Terkait

Overview

Publikasi

GABUNG AJIJAK?