Workshop dan Beasiswa Peliputan Jurnalis
“Menguak Ancaman Pandemi Mikroba Resisten”
LATAR BELAKANG
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan tanggal 18-24 November setiap tahunnya sebagai Pekan Peduli Antimikroba Sedunia untuk mencegah resistensi antimikroba (AntiMicrobial Resistance). AMR terjadi ketika bakteri, jamur, virus, dan parasit tidak lagi merespons obat-obatan. Akibatnya penyakit makin sulit diobati dan meningkatkan risiko penyebaran penyakit, tingkat keparahan penyakit, dan bahkan kematian.
Sebenarnya tubuh manusia memiliki kemampuan untuk melawan infeksi. Antibiotik berguna untuk mempermudah manusia melawan infeksi bakteri itu. Namun, jika penggunaan antibiotik tidak tepat, maka akan memicu resistensi, menurunkan kemampuan antibiotik melawan bakteri, bahkan hingga antibiotik tidak lagi mempan terhadap infeksi bakteri. Persoalannya, saat ini masih banyak antibiotik yang mudah diakses oleh masyarakat, tanpa resep dari dokter. Berdasarkan hasil Survei Kesehatan Indonesia 2023, dari 22,1% masyarakat yang menggunakan antibiotik oral dalam 1 tahun terakhir, 41,0% diantaranya memperoleh antibiotik tanpa resep.
AMR ditetapkan sebagai penyebab 200.000 kematian bayi baru lahir per tahun (WHO 2017), 558 ribu kasus baru TB resisten antibiotik per tahun (WHO 2018), dan diperkirakan menyebabkan lima juta kematian global per tahun (Lancet 2022). Resistensi antimikroba (AMR) saat ini masuk dalam 10 besar permasalahan ancaman kesehatan global yang mendesak dan memerlukan perhatian serius. Jika tindakan tidak diambil sejak dini, hal ini dapat menyebabkan bencana nasional dan global.
AMR bisa berdampak luas bagi kehidupan manusia, termasuk hewan dan lingkungan. Pendekatan One Health pun menjadi penting karena mitigasi terhadap AMR dapat berdampak pada target SDGs 2030 di sektor kesehatan, kemiskinan, pekerjaan, kemiskinan, termasuk kesejahteraan yang baik.
Kampanye resistensi antimikroba (AMR) menjadi penting di masyarakat, agar penggunaan antibiotik menjadi lebih terkontrol atau sesuai penatagunaannya. Jurnalis memiliki peran penting dalam mengampanyekan isu resistensi antimikroba agar masyarakat menjadi semakin peduli pada isu tersebut dan dapat berkontribusi pada upaya mitigasi AMR.
Pembicara:
Hari Pertama:
1. dr. Felix Liauw, Sp.A (Satgas Penyintas AMR WHO)
2. dr. Windhi Kresnawati, Sp.A (Yayasan Orang Tua Peduli)
3. dr. Hari Parathon, Sp. OG (K) (Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA))
4. Gunawan Budi Utomo, FAO- ECTAD Indonesia
5. Ahmad Arif, Harian Kompas
Hari Kedua:
1. Gloria Fransisca (Pemimpin Redaksi Prohealth.id)
2. Aditya Ramadhan (Harian Kompas)
Moderator:
– Tri Suharman
– Sonya Andomo