Diskusi dan Bedah Buku Giant Pack Of Lies Part 2 (Kolabs dengan AJI Kota Solo)

0

Tertarik

0

Hadir

0 %

Interaksi

Diskusi Publik Buku “A Giant Pack of Lies Part 2” di 5 Kota
Menagih Realisasi Perda KTR di Kota Solo

Rokok bukan barang normal. Hal ini jelas, mengingat rokok sebagai produk komersial membahayakan kesehatan publik. Prevalensi perokok anak masih menjadi tantangan besar di Indonesia mengingat tingginya intervensi industri rokok pada kebijakan publik. Cara-cara yang digunakan antara lain menggunakan strategi media manipulation, lobbying and hijacking legislative processes, public relations, dan creating illusion of support. (riset the Tobacco Atlas).

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 Kemenkes, jumlah perokok aktif diperkirakan mencapai 70 juta orang, dengan 7,4% di antaranya perokok berusia 10-18 tahun. Kelompok anak dan remaja merupakan kelompok dengan peningkatan jumlah perokok yang paling signifikan. Meskipun turun dari angka 9,1 persen berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, akan tetapi penurunan tersebut tidak signifikan dan masih sangat memprihatinkan.

Konsumsi rokok, khususnya bagi anak, akan memengaruhi fungsi jaringan prefrontal cortex (PFC), yaitu otak bagian depan yang bertanggung jawab terhadap kemampuan kognitif, pengambilan keputusan, kemampuan analisis, dan stabilitas emosi. Jika anak sudah terlanjur mengonsumsi nikotin sejak usia dini, maka ini akan memengaruhi fungsi PFC dan menyebabkan kerusakan PFC secara permanen.

Tak hanya itu, selaras dengan strategi manipulasi media yang dilakukan industri rokok, terpaan iklan dan promosi rokok sejak usia dini juga meningkatkan persepsi positif dan keinginan untuk merokok. Studi Surgeon General menunjukkan bahwa iklan rokok mendorong perokok meningkatkan konsumsinya, mendorong anak-anak mencoba merokok, dan menganggap rokok adalah wajar (WHO, 2009).

Selain perokok aktif, kelompok perokok pasif jauh juga ikut merasakan dampak kesehatan yang sama. Perlu penegasan regulasi meskipun merokok adalah kebebasan tiap individu, tetapi rokok bukan barang normal. Kebebasan individu untuk merokok terbatasi oleh kebebasan orang lain yang berhak menghirup udara bersih, bebas zat beracun yang terkandung dalam sebatang rokok. Oleh karenanya, mematikan 1 batang rokok akan menyelamatkan tidak hanya satu nyawa saja, tetapi juga nyawa orang-orang di sekitarnya.

Budaya, kebiasaan, populasi yang banyak, absennya regulasi yang melindungi kesehatan publik, menjadi peluang besar dan empuk industri rokok terus meluaskan pasar di Indonesia. Dengan terus naiknya prevalensi perokok Indonesia, bukan tak mungkin, suatu saat kita akan sampai pada sebutan Indonesia sebagai “Republik Zat Adiktif”.

Berangkat dari keresahan tersebut, Aliansi Jurnalis Independen Jakarta (AJI Jakarta) pada tahun 2024 berhasil memublikasikan buku berjudul ‘A Giant Pack of Lies Part 2: Kebohongan Besar Industri Rokok’. Buku ini merupakan update dari Buku seri 1 yang terbit pada tahun 2009, tentang sepak terjang industri rokok dalam membohongi dan memanipulasi masyarakat Indonesia demi keuntungan yang besar. Banyak fakta penting yang didapatkan melalui reportase para jurnalis tentang eksploitasi anak, bahaya nikotin, intervensi industri kepada pemerintah, korupsi dalam bisnis tembakau, jebakan rokok elektronik, intervensi industri rokok di media, dan suara anak muda yang menjadi korban industri rokok.

Buku ini sangat penting untuk dibaca masyarakat yang lebih luas lagi. Untuk itu, AJI Jakarta bekerja sama dengan AJI Solo, AJI Denpasar, AJI Bandung, dan AJI Mataram akan menggelar Diskusi Publik Buku ‘A Giant Pack of Lies Part 2: Kebohongan Besar Industri Rokok’ karya tim penulis AJI Jakarta.

Melalui diskusi publik di 5 kota tersebut, diharapkan akan terbangun jejaring, ruang diskusi, literasi, dan advokasi, untuk memperbaiki regulasi Indonesia menjamin kesehatan anak-anak masa depan untuk menuju Indonesia Emas 2045.

Keynote Speaker : DPRD Kota Solo, Sugeng Riyanto

Narasumber:
– Penulis Buku, Asnil Bambani
– Shoim Shoim Sariyati, Yayasan Kakak
– dr. Linda Soebroto, Sp.P., Fakultas Ketokteran UNS
– d. Retno Erawati Wulandari, Kepala Dinaas Kesehatan (DKK) Surakarta
– Nadia Sukmawati, Ketua Pemuda Penggerak SOlo

Moderator:
Danur Lambang Priandaru

Dokumentasi :
https://drive.google.com/drive/folders/1IjZEDvAvzsTcp-anNfXdMtlZlmdEWdu4?usp=drive_link

Agenda Terkait

Overview

Publikasi

GABUNG AJIJAK?