Menganalisa Tren Stunting dan Persoalan Sistematis Gizi Buruk

0

Tertarik

0

Hadir

0 %

Interaksi

Workshop Jurnalis

“Menganalisis Tren Stunting dan Persoalan Sistematis Gizi Buruk”

Masalah gizi buruk di Indonesia masih menjadi perhatian serius dan perlu ada penanganan berkelanjutan. Banyak faktor yang memicu terjadinya gizi buruk pada anak balita, di antaranya
disebabkan kurangnya asupan makanan yang tidak sesuai dengan nutrisi yang dibutuhkan (malnutrisi). Akibatnya, anak cenderung memiliki sistem kekebalan tubuh yang lemah, sehingga lebih mudah
tertular penyakit serta proses pemulihannya cukup lama. Permasalahan gizi buruk pada anak balita juga menyebabkan terhambatnya tumbuh kembang anak
secara optimal. Salah satu faktor yang membuat terhambatnya tumbuh kembang anak adalahstunting, kondisi tersebut mengganggu pertumbuhan fisik dan perkembangan kecerdasan otak balita.

Kasus gizi buruk pada anak balita stunting di Indonesia pun kian meningkat selama masa pandemi. Berdasarkan data Survei Status Gizi Balita Indonesia (SSGBI) tahun 2021, prevalensi stunting saat ini
berada pada angka 24,4 persen atau 5,33 juta balita, meningkat dari tahun 2019 yang hanya 2,9 juta anak mengalami gizi buruk. Hal itu terjadi karena dua faktor, yaitu gejolak ekonomi global yang
berlangsung selama masa pandemi, sehingga menimbulkan turunnya daya beli masyarakat dalam pemenuhan asupan gizi yang seimbang, serta terbatasnya layanan kesehatan esensial terhadap
kelompok rentan seperti ibu dan anak. Upaya dan dukungan yang meningkat untuk mengurangi kasus gizi buruk terus dilakukan, tetapi intervensi gizi oleh pemerintah justru melemah seiring penyebaran
virus yang semakin masif.

Sebenarnya, prevalensi stunting ini telah mengalami penurunan dari tahun-tahun sebelumnya. Pada 2019, prevalensi balita stunting mencapai 27,7 persen, lalu pada 2020 turun menjadi 26,9 persen, dan
2021 menjadi 24,4 persen. Angka ini ternyata masih jauh dari angka prevalensi yang ditargetkan dalam RPJMN 2020-2024, yakni 14 persen. Lebih jauh, penanganan agar menurunnya angka gizi buruk tentunya saling berkaitan dengan
penanganan persoalan prioritas lain seperti masalah kemiskinan, kemiskinan ekstrem, dan perbaikan lingkungan sanitasi air bersih. Data di lapangan menyebut banyak anak yang pada akhirnya hanya
diberikan kental manis sebagai penunjang gizi. Padahal menurut angka kecukupan gizi (AKG), anak usia 1-3 tahun maksimal hanya boleh mengonsumsi gula 25 gram atau 5 sendok teh gula sehari.
Edukasi soal gizi di beberapa daerah juga belum diberikan secara maksimal oleh petugas-petugas kesehatan.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta, organisasi profesi jurnalis yang ikut mendukung isu kesehatan publik akan mengadakan kegiatan workshop dan beasiswa
peliputan tentang “Menganalisis Tren Stunting dan Persoalan Sistematis Gizi Buruk”. Harapannya, jurnalis dapat memberikan informasi yang lebih komprehensif dan mendalam tentang permasalahan
gizi buruk kepada pemerintah maupun publik.

Narasumber
1. Yuli Supriati, Sekjen Koalisi Perlindungan Kesehatan Masyarakat
2. Dr. Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K), Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI)
3. dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, Sekretaris Direktorta Jendral Kesehatan Masyarakat Kementrian Kessehatan RI

Moderator:
1. Fauziah Rivanda, AJI Jakarta

Dokumentasi :
https://drive.google.com/drive/folders/1kByO2FvLGBLpESLTGEv_csXxERt1DwBZ?usp=drive_link

Agenda Terkait

Overview

Publikasi

GABUNG AJIJAK?