Penanganan Sampah Plastik dengan Konsep Ekonomi Sirkular

0

Tertarik

0

Hadir

0 %

Interaksi

Workshop dan Fellowship untuk Jurnalis
“Ekonomi Sirkular, Tantangan dan Implementasi”

Data Indonesia National Plastic Action Partnership yang dirilis pada bulan April 2020, menyebut setiap tahunnya Indonesia menghasilkan 6,8 juta ton sampah plastik dan 9 persen di antaranya atau sekitar 620 ribu ton masuk ke sungai, danau, dan laut.

Sebelumnya, Indonesia dikenal sebagai negara yang menyumbang sampah plastik terbesar kedua di dunia. Untuk itu, pemerintah Indonesia telah menetapkan target strategis untuk mengurangi jumlah sampah plastik yang masuk ke lautan sebesar 70 % di tahun 2025.

Salah satu cara mencapai target itu adalah membangun pendekatan ekonomi sirkular, yang mampu mengurangi jumlah sampah plastik. Caranya dengan mendaur ulang plastik pascakonsumsi menjadi bahan baku untuk dibuat produk baru.

Pemerintah melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menilai pengembangan ekonomi sirkular menjadi salah satu solusi untuk menjawab berbagai tantangan terkait sampah plastik. Ekonomi sirkular merupakan pengembangan dari upaya menghasilkan kembali produk, dari produk yang telah ada sebelumnya. Penekanannya adalah sampah yang dihasilkan dari produk sebelumnya, bisa dimanfaatkan lagi untuk kegiatan produksi berikutnya.

Ekonomi sirkular tidak hanya berdampak positif bagi upaya pengelolaan sampah tetapi juga menjadi pijakan utama pengembangan dan penerapan bisnis berkelanjutan di Indonesia.

Untuk mendukung program tersebut, pemerintah juga sedang menggodok Green Procurement Policy sebagai bentuk dukungan atas ekonomi sirkular. Karena itu dibutuhkan upaya kolaboratif dari setiap pihak, baik pemerintah, masyarakat, konsumen, produsen, industri daur ulang, sektor informal, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mewujudkan ekosistem ekonomi sirkular yang kuat dan tangguh.

Pemerintah juga mengapresiasi peran produsen untuk mendukung komitmen pemerintah melalui berbagai langkah, inisiatif, dan inovasi dalam pengelolaan sampah dari produk dan kemasan produk.

Saat ini, tingkat daur ulang botol PET di Indonesia sudah lebih dari 60% di mana angka itu lebih tinggi dari rata-rata Eropa (48%) dan Amerika (29%). Pasalnya, botol PET mempunyai harga jual yang tinggi dan telah dikelola dengan baik oleh industri daur ulang. Ini merupakan peluang bagi pengelolaan sampah di Indonesia dan layak dikembangkan untuk kemasan lain yang masih sulit didaur ulang dan bernilai rendah.

Sebagai organisasi jurnalis, Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Jakarta juga perlu mengarusutamakan isu ini agar menjadi perhatian dari masyarakat umum. Dengan jejaring jurnalis yang dimiliki oleh AJI Jakarta, jurnalis diharapkan memiliki pengetahuan yang mumpuni terkait isu ekonomi sirkular dalam hal pengelolaan sampah berkelanjutan, agar bisa menulis isu tersebut secara tepat dan benar di media mereka masing-masing. Tentunya tanpa mengesampingkan fungsi edukasi masyarakat yang dimiliki oleh para jurnalis.

Pembicara
Hari Pertama:
1. Novrizal Tahrr, Direktur Penanganan Sampah KLHK
2. Dr. Yuki Mahardhito Adhitya Wardhana, Ketua Umum Indonesian Environmental Scientists Association
3. Maya Tamimi, Head of Sustainable Environment, Unilever Indonesia Foundation
4. Hilal, direktur NGO Yayasan Rumah Pelangi

Hari Kedua:
1. Endarwati, Direktur Bank Sampah
2. Emiliana Yulianti – Home Care Indonesia Packaging Development Manager

Moderator:
Gloria Fransisca

Agenda Terkait

Overview

Publikasi

GABUNG AJIJAK?